Operator pertaruhkan reputasi dalam perang tarif
Operator seluler di Indonesia sudah saatnya menghentikan perang tarif karena iklim perekonomian sekarang sangat tidak mendukung. Pakar pemasaran dari Markplus Inc, Hermawan Kartajaya, mengungkapkan perekonomian makro sedang tidak kondusif karena tingkat inflasi terus meningkat imbas kenaikan harga minyak mentah dunia.
Dengan demikian, sambung dia, telah terjadi kenaikan biaya produksi secara signifikan di semua lini yang gilirannya akan membuat operator yang menerapkan perang tarif bisa merugi dengan cepat.
“Dan situasi inflasi ini tidak tahu sampai kapan terjadi. Tak satu pun pihak, termasuk produsen minyak seperti Rusia, yang bisa memprediksi kenaikan harga minyak ini, ” katanya.
Hermawan mengungkapkan operator seluler mempertaruhkan reputasi yang sangat besar saat melakukan perang tarif. Alasannya, operator cenderung melakukan spekulasi bisnis yang sangat serampangan.
Dengan perang tarif, operator bisa memperoleh keuntungan apabila terjadi kenaikan volume percakapan secara signifikan. Jika target volume itu tidak tercapai, maka investasi yang dikeluarkan seketika menjadi kerugian.
Dia mengungkapkan perang tarif juga akan merusak reputasi perusahaan apabila kualitas layanan yang diberikan tidak dijaga dengan baik, sebagaimana sering ditemukan dalam layanan operator seluler saat ini.
“Kami perhatikan, perang tarif operator kini sudah mengubah kualitas hubungan produsen dengan konsumen. Ini berbahaya, bisa jadi nanti tidak ada lagi loyalitas pelanggan,” sambungnya.
Presiden Asosiasi Pemasar Asia ini menambahkan operator terlalu berani menawarkan tarif termurah pada saat pertumbuhan orang kaya di Indonesia sebenarnya terus naik dari tahun ke tahun.
Dia mencontohkan produk indikator pertumbuhan ekonomi, yakni mobil, motor, dan properti di Sumatra dan Sulawesi belakangan menunjukkan penjualan yang sangat pesat dibandingkan dengan sebelumnya.
“Oleh karena itu, kami rekomendasikan agar tenaga pemasaran di mana pun lebih menge- depankan kreativitas saat menjual produk atau jasa. Contohnya, seperti yang dilakukan Esia dengan Rp1 per karakter SMS.”
Kreativitas tersebut harus ditambah dengan perubahan pola promosi, yang tak lagi mengandalkan pemasaran dari satu pihak ke banyak komunitas seperti dilakukan pada periklanan di media tradisional.
Hal yang efektif saat ini, lanjut Hermawan, adalah pemasaran dari satu komunitas ke komunitas lainnya sebagaimana dilakukan dalam berbagai komunitas jejaring sosial di Internet, seperti Fecebook, MySpace, dan seterusnya.
“Cara ini jauh lebih efektif, efisien, dan mengena langsung. Orang sekarang sudah cerdas, testimoni keunggulan produk dari satu orang tidak akan cukup.”
(Sumber : Bisnis Indonesia, studiohp.com)
Segera bergabung dengan FORUM kami, Daftar !
Related posts:
- Tarif Kartu AS Diskon 50 Persen Sampai Akhir November...
- Menteri Ingin Operator ‘Gencatan Senjata’...
- Pemerintah Larang SMS Gratis ke Semua Operator...
- Tarif Telepon Flexi Naik atau Turun?...
- 2009, Tak Ada Penurunan Tarif Telepon...
- Telkom akan Memberlakukan Struktur Tarif Flat untuk Flexi...
- Skema Tarif Baru XL: Pilih Telepon Murah atau SMS Murah?...
- Program Telepon Rumah Tarif Hemat...
- 8 Juta Pelanggan Flexi Akhir 2008...
- Operator Harus Hentikan Program SMS yang Menipu...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Leave a Comment